Panggung Terbuka, Akses Media Tertutup? Masyarakat Samosir Soroti Festival Tao Toba Jou-Jou
Samosir- Pembatasan akses wartawan saat meliput Festival Tao Toba Jou-Jou 2026 di Waterfront City Pangururan, pada Sabtu (8/8/26), kini tidak hanya menjadi perhatian kalangan pers.
Sejumlah elemen masyarakat yang peduli terhadap dunia pemberitaan di Kabupaten Samosir turut mempertanyakan persoalan tersebut,Senin(10/8/26).
Boris Situmorang, masyarakat sekaligus pegiat media sosial, mempertanyakan dasar aturan panitia maupun Event Organizer (EO) yang membatasi wartawan melakukan dokumentasi di sekitar area panggung.
“Kalau memang ada aturan wartawan harus terdaftar atau menggunakan badge, mengapa tidak disampaikan sejak awal?
Wartawan datang untuk menjalankan tugas jurnalistik, bukan untuk mengganggu jalannya acara,” ujar Boris.
Ia mengakui pembatasan area dapat diterapkan demi keamanan dan kelancaran kegiatan.
Namun, menurutnya, aturan harus jelas, transparan dan berlaku sama.
“Jangan sampai wartawan dibatasi, sementara pihak lain bisa mengambil dokumentasi di area yang sama.
Kalau memang ada aturan khusus, jelaskan kepada media,” tegasnya.
Boris menilai persoalan ini bukan hanya menyangkut kepentingan wartawan, tetapi juga kepentingan masyarakat yang membutuhkan informasi melalui pemberitaan.
“Wartawan adalah penyambung informasi kepada publik. Karena itu, akses media jangan dibuat seolah-olah tertutup tanpa penjelasan yang jelas,” katanya.
Masyarakat Samosir berharap panitia dan EO memberikan klarifikasi terkait dasar serta mekanisme pembatasan akses wartawan tersebut agar persoalan tidak berkembang menjadi polemik dan dapat menjadi evaluasi untuk kegiatan publik berikutnya.(Tim).

















Komentar