TKN94. COM,//Samosir – Heningnya Hutan Wisata Situmorang Tele, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, pecah oleh kabar mengejutkan,selasa (23/9/2025).
Ekspedisi gabungan warga Desa Partukot Naginjang, pegiat lingkungan, dan jurnalis membuka tabir kelam: jejak penebangan liar masih segar menodai kawasan konservasi ini.
Perjalanan menuju titik temuan tidak mudah. Rombongan harus menembus jalur terjal, semak belukar, hingga merunduk melewati vegetasi rapat.
Namun kerja keras itu berbuah fakta mencengangkan,batang-batang pohon besar rebah berserakan, bekas gergaji mesin jelas terlihat, seakan hutan baru saja “disayat” paksa.
Suara Lantang Warga: “Kami Butuh Hutan, Bukan Kuburan Alam!”
Boris Situmorang, warga sekaligus aktivis lingkungan, meluapkan amarahnya.
“Ini hutan masa depan! Bagaimana mungkin pemerintah hanya menonton saat alam dijarah? Kami butuh hutan hidup, bukan kuburan alam!” ujarnya keras.
Ia menuding lemahnya pengawasan sebagai biang kerok.
“Aparat tidur, negara seolah absen. Apakah kami harus berjaga sendiri di hutan demi anak cucu kami?”
Hukum Keras, Pelaksanaan Tumpul
Padahal, aturan sudah jelas:
UU 41/1999 tentang Kehutanan: larangan tegas tebang tanpa izin.
UU 32/2009 tentang Perlindungan Lingkungan: wajib izin dan pengawasan.
PP 45/2004 tentang Perlindungan Hutan: ancaman pidana hingga 10 tahun penjara dan denda Rp5 miliar.
Namun, fakta lapangan justru menampar: penebangan ilegal terus terjadi di depan mata, seolah hukum hanya sebatas pasal mati.
Ultimatum Publik: Tangkap Pelaku atau Hilang Kepercayaan!
Warga dan pegiat lingkungan kini bersuara lantang. Mereka menuntut Dinas Kehutanan, Gakkum KLHK, hingga aparat penegak hukum untuk bergerak cepat.
Tidak cukup sekadar imbauan, mereka mendesak penyelidikan serius, penangkapan pelaku, dan eksekusi hukum tanpa kompromi.
“Kalau hutan ini hilang, maka masa depan anak-anak kita ikut dikubur. Jangan tunggu sampai oksigen terakhir tercabut dari paru-paru kita!” tutup Boris penuh getir.
Hutan Wisata Situmorang Tele bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah benteng ekologis, penyangga iklim, dan sumber kehidupan ribuan warga.
Jika perusakan ini dibiarkan, maka yang hilang bukan hanya pohon, tapi juga masa depan generasi.(Tim)









Komentar